Thursday, 7 April 2011

Jabal Ghafur dan Sisa Budaya Lama

HINGGA usia keberadaan Prof BI Ansari MPd sebagai rektor Universitas Jabal Ghafur memasuki lebih dua bulanan, publik dan pemerhati pendidikan di Kabupaten Pidie masih pula dihentak keluhan mahasiswa melalui ruang-ruang SMS pembaca koran-koran terbitan Aceh menyangkut dosen yang suka telat datang.

Barangkali memang berlebihan bila hendak membandingkan Jabal Ghafur dengan Universitas Oxford Inggris, Universitas Kyoto Jepang, Universitas Syiah Kuala dan IAIN Ar-Raniri Banda Aceh serta Universitas Malikul Saleh Lhokseumawe.

“Tapi,” kata Faisal Zain, mantan aktivis referendum Aceh yang memiliki perhatian terhadap dunia kependidikan di Pidie, “apa sebenarnya yang paling subtansial pembeda antara semua lembaga pendidikan tinggi itu dengan Jabal Ghafur? Saya kira tak ada, kecuali pada kedisiplinan di tataran lembaga dan kepengajaran. Yang lain cuma soal teknis dan usia.”

Menurut Faisal, bila mengambil Jabal Ghafur di posisi rendah dalam perbandingan dengan universitas-universitas hebat di atas berdasarkan negara, usia, popularitas dan status, itu bukan sistem perbandingan yang proporsional dan samasekali tidak bermental ilmiah berwawasan pergerakan dan pembaharuan.

“Kita tidak selamanya harus memainkan apologi yang mendukung dan melegitimasi kekurangan dan kelemahan diri. Itu mental pecundang, tak layak diakomodir oleh sebuah lembaga pendidikan tinggi,” tegas pemerhati yang juga Sekretaris Umum Partai SIRA Pidie ini.

Lagi pula, sambung lelaki berusia 30 tahun itu, di tubuh universitas yang berkampus di Glee Gapui, Mila, Pidie melekat tanggung jawab misi dan risalah perjuangan intelektual akademik masyarakat Kabupaten Pidie, Pidie Jaya dan bahkan beberpa persen untuk kabupaten lain seperti Bireuen, Aceh Utara dan Aceh Timur karena sekian banyak mahasiswa/mahasiswi Jabal Ghafur berasal dari daerah-daerah tersebut.

“Mengadopsi berbagai rumus pembenaran agar aman dan nyaman di posisi terendah yang seperti itu, bisa dikatakan itu benar-benar mental yang zalim untuk sebuah lembaga akademika yang berefek kepada kemunduran terus-menerus suatu komunitas, kaum dan bangsa yang mempercayai lembaga pendidikan tersebut sebagai sumber pencerahan masa depan,” tegas Faisal.

Pria kelahiran Gampong Peukan Sot, Simpang Tiga, Pidie, ini yakin bila semua pihak di ruang lingkup yayasan, Pemda Pidie dan pihak-piha lainnya yang terkait, memiliki niat cemerlang untuk memperjuangkan Jabal Ghafur sebagai sebauah lembaga pendidikan tinggi yang brilian, pasti akan mampu.

“Yang pertama kita lihat saja dulu pada tingkat antusiasme masyarakat Pidie dan Pidie Jaya serta daerah-daerah lainnya yang mempercayai anak-anaknya kuliah di Glee Gapui. Itu modal utama. Selebihnya terserah kita mau dibawa ke mana universitas yang sarat nilai dobrakan ini,” lanjutnya.

Dan untuk mengawali itu semua, kata Faisal, perkara dosen telat masuk yang dulunya sudah menjadi bagian dari budaya keseharian di Glee Gapui, hendaknya sudah dapat diakhiri sesegera mungkin.[]



Musmarwan Abdullah

Sunday, 3 April 2011

SIKAP

“ Orang ng yang bisa menaklukan orang lain itu kuat. Orang yang bisa menaklukan diri sendiri itu lebih kuat”.

Semakin lama kita hidup, maka semakin kita sadar dengan pengaruh sikap dalam kehidupan, karena sikap lebih penting daripada ilmu, uang, kesempatan dan keberhasilan apapun yang dilakukan seseorang. Sikaplah yang menjadi penentuan dalam segala hal yang sedang kita lakukan.

Bahkan, sikap itu lebih penting daripada penampilan atau keahlian yang kita miliki. Satu hal yang sangat menakjubkan adalah ketika kita memiliki pilihan untuk menghasilkan sikap yang kita miliki. Sebenarnya, kita tidak dapat mengubah masa lalu, mengubah tingkah laku orang dan begitu juga dengan mengubah apa yang pasti terjadi satu dan lain hal. Yang dapat kita ubah adalah satu hal yang dapat kita kontrol dan itu adalah sikap kita.

Sikap kita dibangun dari kebiasan, teman, lingkungan dan keluarga. Untuk itu sebaiknya kita menekan sikap-sikap yang dapat membawa kearah yang tidak baik. Ketika kita berada pada sebuah komunitas yang baru, sikap merupakan tolak ukur bagi orang lain untuk menilai diri kita, sehingga kesan pertama dapat memberikan beragam respon terhadap kita.

Ketika kita dapat menentukan sikap kita, kita lebih bisa untuk menentukan hal-hal yang harus dilakukan terlebih dahulu. Setiap individu memilik banyak kepentingan yang berbeda-beda. Maka dengan SIKAP yang baik kita lebih berpendirian dan tegas dalam memilih kepentingan yang harus diprioritaskan.

Dengan demikian, setelah kita memiliki sikap yang baik dan terarah, kepercayaan diri timbul dengan sendirinya, memiliki kepercayaan diri yang didasari dengan tanggung jawab yang benar pula. Sikap menjadi tolak ukur dalam kepercayaan diri seseorang, Hal ini dapat berpengaruh pada sikap kita terhadap komunitas sekitar kita, begitu juga dengan sikap kita dalam berkomunikasi satu sama lain.

Intinya adalah keseimbangan dalam segala hal itu lebih baik, dari pada ambisi dan semangat juang tinggi tanpa kesadaran akan SIKAP kita. Semoga hal ini dapat membawa peningkatan moral dalam kehidupan kita sehari-hari. Dan tidak gamang dalam menentukan segala hal yang memang harus disikapi..

Seuteres ….

Tong A Fie - Orang Terkaya Asal Medan

Bila di Jawa kita mengenal Oei tiong ham. maka di sumatra juga punya kisah tragis yang lebih menyentuh bak telenovela namun ini adalah kisa...